Rabu, 20 Agustus 2014

Subhanallah vs Masya Allah
Ketika seseorang melihat sesuatu yang mempesona, ucapan yang menggambarkan rasa ketaajuban mayoritasnya mengucapkanp kalimat "subhanallah /سبحان الله". Sementara jika melihat sesuatu yg tidak baik, buruk, jelek sering menggunakan kalimat "masya Allah/ ما شا ء الله ".
Kita tidak menghakimi mana yang benar mana yang salah. Namun jika ditelisik dari segi makna rasanya kurang tepat.
Allah adalah dzat dan sifat yang suci dari segala keburukan, kejelekan dan dari segala yang tidak baik. Kita yakin bahwa Allah adalah Maha baik dan dari-Nya yang baik-baik. Adalah mustahil Allah melakukan keburukan.
Oleh karena itulah segala kebaikan adalah atas kehendak Allah ta'ala dan segala keburukan datang dari kita sendiri dan  Allah suci darinya.
Atas dasar itulah rasanya lebih pas kalimat ما شاء الله  untuk menanggapi hal-hal yang baik, sedangkan kalimat "سبحان الله" untuk mengomentari hal-hal yang buruk yang pasti Allah berlepas diri dan suci dari keburukan.
Wallahu a'lam bishawab.

Orang yang bangkrut
Suatu hari Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bertanya kepadba para sahabat:
“Tahukah kalian, siapakah muflis (orang yang bangkrut) itu?”. Para sahabat menjawab: “Di kalangan kami, muflis itu adalah seorang yang tidak mempunyai dirham dan harta benda”. Nabi bersabda : “Muflis di antara umatku itu ialah seseorang yang kelak di hari qiyamat datang lengkap dengan membawa pahala ibadah shalatnya, ibadah puasanya dan ibadah zakatnya. Di samping itu dia juga membawa dosa berupa makian pada orang ini, menuduh sianu ini, menumpahkan darah si anu serta menyiksa sianu ini. Lalu diberikanlah pada yang terdhalimi sebagian pahala kebaikannya, juga pada yang lain. Sewaktu kebaikannya sudah habis padahal dosa kedhaliman belum terselesaikan, maka diambillah dosa mereka (seberat kedhaliman yang diterima) lalu ditimpakan kepada dirinya. Kemudian dia dihempaskan ke dalam neraka" HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud.
Hadits ini sebagai peringatan bagi kita yang ingin selamat dari api neraka dan pahala amal yang banyak tidak secara otomatis bisa melenggang melewati mizan dan shirat. Karena disana ada pertanggungjawaban segala amal perbuatan seseorang. Interaksi dengan orang lain yang belum terselesaikan di dunia akan dihadapkan ke pengadilan Ilahi yang adil seadil-adilnya dan tak ada kedhaliman sedikitpun disana.
Situasi seperti inilah yang ditakutkan oleh orang yang berakal sebagaimana dipaparkan oleh Al -Qur 'an surat ar-Ra'du ayat 21 yang terjemahannya:
" dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk".
Hisab yang buruk itulah yang akan menimpa orang-orang muflis ( bangkrut) di alam akhirat. Wallahu a'lam bishawab.u

Senin, 11 Agustus 2014

Islam adalah agama yang dibawa oleh para nabi sejak moyang manusia Adam alaihissalam sampai nabi terakhir yakni Muhammad shalallu 'alaihi wasallam.
Sepeninggal para nabi, ajaran mereka diteruskan oleh para pengikut setia yg berkomitmen dengan ajaran Islam. Ketika rentang waktu yg lama melewati puluhan bahkan ratusan alih generasi ajaran asli para nabi mengalami perubahan— perubahan baik perubahan yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Dengan demikian, jika ingin mengetahui otentitas keaslian ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan para nabi harus merujuk kepada sumber asli ajaran yang termaktub dalam kitab suci yang asli.
Kitab— kitab suci yang dibawa para nabi pada masa kini sudah mengalami perubahan— perubahan kecuali kitab suci yang dibawa aoleh nabi penghabisan yaitu Al Qur'an.